Solo: Dari Kota Budaya ke Kota Olahraga
Kota Solo selalu punya cara untuk memikat hati banyak orang. Kota ini memang dikenal sebagai surga kuliner seperti satai kambing, nasi liwet, serabi, dan tengkleng yang menggugah selera. Tak ketinggalan, keramahan warganya membuat wisatawan betah berlama-lama singgah di Kota Bengawan.
Di balik kehangatan kota budaya ini, terdapat sebuah potensi besar yang siap menggerakkan roda ekonomi, yakni sport tourism. Seiring dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan kian meningkat dan tren wisata berubah, Solo memiliki semua modal untuk bertransformasi dari sekadar kota kuliner dan budaya menjadi destinasi sport tourism unggulan.
Sport tourism adalah konsep pariwisata yang menggabungkan kegiatan olahraga dengan perjalanan wisata. Jadi wisatawan datang untuk menonton, berpartisipasi, atau bahkan menjadi bagian dari atmosfer kompetisi, sambil menikmati keindahan destinasi yang dikunjunginya.
Secara global, sport tourism merupakan salah satu sektor pariwisata dengan pertumbuhan tercepat. Berdasarkan laporan Allied Market Research (2024), nilai pasar sport tourism dunia mencapai USD 587 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan menembus USD 1 triliun pada 2032.
Peningkatan minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat setelah pandemi covid-19 serta popularitas olahraga seperti sepak bola, lari, bulutangkis, dan lainnya, serta dukungan media sosial digital menjadi pendorong utama tren ini. Di banyak negara, sport tourism bahkan menjadi tulang punggung pariwisata baru yang inklusif dan berkelanjutan.
Di Indonesia kontribusinya mulai terlihat sejak suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018, MotoGP Mandalika, hingga FIFA U-17 World Cup 2023. Salah satu tuan rumah yang paling menonjol dalam Piala Dunia U-17 adalah Kota Solo yang berhasil menunjukkan kesiapan infrastruktur dan dukungan masyarakat yang luar biasa.
Solo adalah kota jasa yang bergantung pada sektor pariwisata. Dengan keterbatasan sumber daya alam, pilihan yang paling logis bagi kota ini adalah memperkuat sektor berbasis jasa, terutama melalui event dan destinasi wisata tematik.
Dalam konteks ini, sport tourism bukan hanya pelengkap, melainkan strategi pembangunan ekonomi yang visioner. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta sudah berupaya mengintegrasikan event olahraga dengan promosi wisata. Hasilnya, Solo kini tidak hanya dikenal karena batik dan kuliner, tetapi juga karena kapasitasnya sebagai tuan rumah berbagai kompetisi olahraga skala nasional dan internasional.
Apalagi Solo memiliki Stadion Manahan yang menjadi ikon kebanggaan dan simbol kesiapan kota ini dalam dunia sport tourism. Stadion berkapasitas 25.000 penonton itu telah menjadi arena bagi berbagai ajang bergengsi seperti, Liga 1, Liga 2, Piala Suratin, AFC Cup, IBL, Proliga, ASEAN Paragames, hingga Kejuaraan Bulutangkis Asia.
Biaya sewanya yang relatif rendah sekitar Rp75 juta per event tentu jauh lebih murah dibanding Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang mencapai Rp500 juta. Ini menjadikan Solo pilihan favorit bagi penyelenggara event nasional yang mencari efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.
Selain Stadion Manahan, Solo memiliki empat lapangan sepak bola berstandar FIFA yang digunakan dalam Piala Dunia U-17 2023 lalu. Solo juga mempunyai klub sepak bola yang berlaga di Liga 1 (sekarang Super League) yang dari sisi basis penggemar menempati peringkat lima besar dalam jumlah penonton terbanyak dengan total 154.855 penonton selama musim 2024–2025.
Data ini menunjukkan bahwa sport tourism di Solo tidak bergerak di ruang kosong. Ia tumbuh dari akar masyarakat yang sudah memiliki kecintaan mendalam terhadap olahraga. Penonton bukan hanya bagian dari event, melainkan menjadi pendukung atmosfer yang menjual pengalaman khas kota ini.
Belum lagi kehadiran event lari massal seperti Mangkunegaran Run, Run for Humanity, dan Solo Run juga memperlihatkan antusiasme warga dengan berpartisipasi langsung. Ajang seperti ini mempertemukan olahraga, budaya, dan sosial, kombinasi yang menjadi ruh dari sport tourism yang berkelanjutan.
Sport tourism tidak sekadar tentang pertandingan, tetapi mesin ekonomi. Setiap event besar mendorong permintaan terhadap transportasi, akomodasi, kuliner, hingga merchandise lokal.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Surakarta (2024), total kunjungan wisatawan ke Solo mencapai 4,5 juta orang, di mana 3 juta di antaranya berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Tingginya angka kunjungan ini membuktikan bahwa Solo sudah menjadi destinasi utama di Jawa Tengah. Tantangannya kini adalah bagaimana memperpanjang lama tinggal wisatawan agar mereka juga menikmati sport tourism, wisata budaya, dan wisata kuliner sekaligus.
Sebuah studi The United Nations World Tourism Organization (UNWTO) pada 2023 mencatat, wisatawan yang datang untuk menonton atau mengikuti event olahraga rata-rata menghabiskan waktu 1,5 kali lebih lama dan uang dua kali lebih banyak dibanding wisatawan biasa. Dengan pengelolaan yang tepat, sport tourism bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) baru bagi Solo.
Keunggulan Kota Solo
Terlebih Solo memiliki modal infrastruktur dan sosial yang kuat. Dari sisi akses, kota ini sangat strategis. Ada Jalan tol, Bandara Adi Soemarmo, Terminal Tirtonadi, dan Stasiun Solo Balapan membuat Solo mudah dijangkau dari berbagai kota besar di Indonesia.
Selain itu, Stadion Manahan terletak di jantung kota, hanya berjarak beberapa menit dari sejumlah hotel, rumah makan, dan rumah sakit. Saat ini terdapat sekitar 20 rumah sakit, termasuk rumah sakit kardiologi (Rumah Sakit Kardiologi Emirates–Indonesia) bertaraf internasional yang penting untuk menjamin keselamatan atlet dan wisatawan.
Solo juga memiliki karakter sosial yang unik, aman, nyaman, dan bersahabat. Kuliner khas seperti selat Solo, tengkleng, dan serabi Notosuman menjadi bagian dari pengalaman wisata olahraga yang autentik bagi wisatawan. Biaya hidup yang rendah dan ritme kehidupan slow living menjadikan Solo destinasi ideal untuk berolahraga sekaligus berlibur tanpa tekanan.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Meski potensinya besar, pengembangan sport tourism di Solo masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, keterbatasan infrastruktur pendukung seperti parkir, fasilitas publik, dan jalur pedestrian di sekitar venue. Kedua, aspek keamanan dan keselamatan wisatawan yang harus dijaga secara konsisten.
Tak hanya itu, diperlukan sinkronisasi antara agenda olahraga dan promosi pariwisata. Banyak event besar yang berjalan sendiri tanpa terintegrasi dengan paket wisata atau kegiatan budaya. Padahal sinergi ini bisa meningkatkan lama tinggal wisatawan dan memperluas dampak ekonominya.
Ke depan Pemkot Surakarta perlu memperkuat kerja sama lintas sektor, misalnya dengan komunitas olahraga, pelaku usaha wisata, hotel, hingga media digital. Promosi event olahraga bisa dikemas dengan storytelling khas Solo yang menggabungkan semangat kompetisi dan kehangatan budaya.
Pengelolaan destinasi juga harus berorientasi pada keberlanjutan. Artinya, event olahraga tidak boleh hanya menumpuk sampah dan meninggalkan jejak karbon, tetapi juga membawa manfaat jangka panjang. Penggunaan energi ramah lingkungan di stadion, pengelolaan limbah, dan edukasi publik menjadi bagian penting dari sport tourism yang beretika.
Sport tourism bukan hanya tentang olahraga, melainkan tentang bagaimana sebuah kota menampilkan dirinya kepada dunia. Ketika Solo sukses menjadi tuan rumah event internasional seperti Piala Dunia U-17 atau ASEAN Paragames, dunia melihat lebih dari sekadar pertandingan. Tentu mereka bisa melihat kota yang hidup, inklusif, dan ramah bagi siapa saja.
Momentum inilah yang harus dijaga. Dengan strategi promosi digital, kolaborasi komunitas, dan pengelolaan berkelanjutan, Solo berpeluang menjadi kiblat sport tourism Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
Solo telah membuktikan diri sebagai kota budaya yang bertransformasi menjadi kota modern tanpa kehilangan jiwanya. Kini tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Dari panggung budaya menuju panggung olahraga dunia, Solo siap berlari lebih jauh.